Viedhaa

Aliran-aliran Pendidikan


A.      Aliran Klasik dan Gerakan Baru dalam Pendidikan
                Aliran-aliran klasik meliputi aliran-aliran empirisme, nativisme, naturalism, dan konvergensi merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran masa lalu, kini, dan mungkin yang akan dating. Aliran-aliran itu mewakili berbagai variasi pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang paling pesimis sampai dengan yang paling optimis. Aliran yang paling pesimis memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak bakat yang tealah dimiliki anak. Sedang sebaliknya, aliran yang sangat optimis memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati. Banyakk pemikiran yang berad di antara kedua kutub tersebut, yang dapat dipandang sebagai variasi gagasan dan pemikiran dalam pendidikan.

1.   ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN DAN IMPLIKASI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN
1. Aliran Empirisme
                Menurut konsep empirisme pendidikan adalah maha kuasa dalam membentuk anak didik menjadi apa yang diinginkannya.
                Menurut John Locke (dalam Blishen, 1970) hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah:
a.       Pendidikan harus diberi sejak awal mungkin
b.      Pembiasaan dan latihan lebih daripada peraturan, perintah atau nasehat
c.       Anak didik harus diamati dari dekat untuk melihat:
          1.      Apa yang paling tepat bagi anak itu sesuai dengan umurnya (tingkat perkembangannya).
          2.      Hasrat-hasratnya yang amat kuat
          3.      Kecendrungannya mengikuti orang tua tanpa merusak semangat anak itu amat kuat.
d.      Anak harus dianggap sebagai mahluk rasional, dalam hal ini anak harus diberikan alasan tentang hal-hal yang dituntut darinya.
e.       Pelajaran di sekolah jangan sampai menjadi beban bagi anak, namun hendaknya menyenangkan dan merupakan suasana bermain yang membuka seluas-luasnya berbagai kemungkinan yang dapat timbul.

       2. Aliran Nativisme
Nativisme berasal dari bahas Latin, asal katanya “natives” berarti terlahir. Aliran ini dipelopori oleh Sckophenhauer seorang filosof kebangsaan jerman yang hidup dalam tahun 1788-1880. Dia berpendapat bahwa “Pendidikan ialah membiarkan seseorang bertumbuh berdasarkan pembawaannya”. Seseorang akan berkembang berdasarkan apa yang dibawanya dari lahir. Hasil akhir perkembangan dan pendidikan manusia ditentukan  oleh pembawaannya dari lahir. Pembawaan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Oleh karena itu manusia akan berkembang dengan pembawaan baik maupun pembawaan buruk yang dibawaknya dari lahir.
                Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan, dan pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang. Contoh orang tua yang mengiginkan anaknya menjadi pelukis. Ia berusaha mempersiapkan alat-alat untuk melukis dan mendatangkan guru untuk melukis, tetapi gagal karena dalam diri anak tidak ada bakat melukis. Oleh karena itu aliran ini merupakan aliran pesimis dalam pendidikan (pesimisme)

3.      Aliran Naturalisme
                Naturalisme berasal dari bahasa latin dari kata “nature” artinya alam, tabiat, dan pembawaan. Aliran ini dipelopori oleh J.J Rousseau (1712-1778), filosof kebangsaan prancis. Aliran ini dinamakan juga nagativisme ialah aliran yang meragukan pendidikan untuk perkembangan seseorang karena dia dilahirkan dengan pembawaan yang baik.
Ciri utama aliran ini ialah dalam mendidik seseorang kembalilah kepada alam agar pembawaan seseorang yang baik itu tidak dirusak oleh pendidik. Dengan kata lain pembawaan yang baik itu supaya berkembang secara spontan.
Sebagai contoh, pada masa anak-anak pengembangan panca indra dilakukan melalui kegiatan anak itu sendiri. Untuk membimbing tingkah laku anak, buku tidak diperlukan, yang penting adalah pengembangan alam atau lingkungan dan berbagai pristiwa yang terjadi di dalamnya. Pada masa remaja agama dan moral hendaklah diajarkan kepada mereka semata-mata dalam kaitannya dengan alasan alamiah, kemampuan berfikir harus dikembangkan dan fantasi tidak dibiarkan bekerja leluasa. Pengajaran yang tujuannya ingin menanamkan suatu aturan atau otoritas tertentu lebih baik ditunda pelaksanaannya.

4.      Aliran Konvergensi
Konvergensi berasal dari bahasa inggris asal katanya ”convergency” artinya pertemuan pada suatu titik. Aliran ini dipelopori oleh William Stren seorang ahli pendidikan bangsa jerman pada tahun 1871-1937. Aliran ini mempertemukan atau mengawinkan dua aliran yang berlawanan di atas antara nativisme dan empirisme. Perkembangan seseorang tergantung kepada pembawaan dan lingkungannya. Dengan kata lain pembawaan dan lingkungan mempengaruhi perkembangan seseorang. Pembawaan seseorang baru berkembang karena pengaruh lingkungan.
                Jadi, menurut teori Konvergensi
a.       Pendidikan mungkin dilaksanakan
b.      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan pada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang buruk.
c.       Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh berkembang manusia.

2. GERAKAN BARU PENDIDIKAN  dan PENGARUHNYA TERHADAP PELAKSANAAN di INDONESIA
            Pendidikan sebagai suatu kegiatan kompleks menuntut penanganan untuk meningkatkan kualitasnya, naik yang bersifat menyeluruh maupun pada berbagai komponen tertentu saja. Gerakan baru dalam paendidikan pada umumnyatermasuk yang kedua yakni upaya peningkatan pendidikan hanya dalam satu atau beberapa komponen saja. Beberapa gerakan baru tersebut memusatkan diri pada perbaikan peningkatan kualitas belajar mengajar pada sistem persekolahan, seperti pengajarn alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekoalh kerja dan pengajaran proyek, dsb.

a.            Pengajaran Alam Sekitar
                Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak pada alam sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar, perintis ajaran ini antara lain ; Fr. A. Finger di Jerman dengan Heimatkunde (pengajaran alam sekitar) dan J. Lighthart di Belanda dengan Het Valleven (kehidupan senyatanya).
Alam sekitar sebagai fundamen dan pengajaran memberikan dasar emosional, sehingga anak menaruh perhatian yang spontan terhadap segala sesuatu yang diberikan kepadanya asal itu didasarkan atas dan diambil dari alam sekitarnya.
b.            Pengajaran Pusat Perhatian
                Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Oviderminat Decroly dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat, disamping pendapatnya tentang pengajaran global. Pendidikan menurut Decroly berdasar pada semboyan sekolah untuk hidup dan oleh hidup. Anak harus di didik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan dalam masyarakat, anak harus dihadapkan kepada pembentukan individu dan anggota masyarakat.
Decroly menyumbangkan 2 pendapat yang sangt berguna bagi pendidikan dan pengajaran, yaitu:
·  Metode Global , anak-anak mengamati dan menginat secara global (keseluruhan).
·  Centre d’interet (pusat-pusat minat) , anak-anak mempunyai minat yang spontan (sewajarnya) terhadap diri sendiri.
c.             Sekolah Kerja
                Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari pandangan-pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam pendidikan. J. A. Comenius menekankan agar pendidikan mengembangkan pikiran, ingatan, bahasa dan tangan (keterampilan, kerja tangan). Sekolah kerja itu bertolak dari pandangan bahwa pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu tetapi juga demi kepentingan msyarakat.
d.            Pengajaran Proyek
                Dasar filosofis dan pedagogis dari pengajaran-pengajaran proyek diletakkan oleh Jhon Dewey, namun pelaksanaannya dilakukan oleh pengikutnya. Dewey menegaskan bahwa sekolah haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat, oleh karena itu pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu sendiri dan bukannya penyiapan untuk kehidupan di masa depan.
                Pengajaran proyek biasa digunakan sebagai salah satu metode mangajar di Indonesia, antara lain dengan nama pengajaran proyek, pengajaran unit, dsb. Pengajaran proyek akan menumbuhkan kemampuan untuk memandang dan memecahkan masalah secara komprehensif.
e.            Pengaruh Gerakan Baru dalam Pendidikan Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan di Indonesia
                Kajian tentang pemikiran pendidikan pada masa lalu akan sangat bermanfaat untuk memperluaspemahaman tentang seluk beluk pendidikan, serta memupuk wawasan historik dari setiap tenaga kependidikan. Kedua hal itu sangat penting karena setiap keputusan dan tindakan di bidang pembelajaran, akan membawa dampak bukan hanya di masa kini tetapi juga di masa depan. Oleh karena itu setiap tindakan dan keputusan itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.

                Dua aliran pokok pendidikan di Indonesia itu dimaksudkan adalah Perguruan Kebangsaan Taman Siswa dan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam. Kedua aliran itu di pandang sebagai tombak pemikiran tentang pendidikan di Indonesia. Namun, upaya dan prakarsa di bidang pendidikan tidak terbatas oleh Taman Siswa dan INS saja, terjadi pula pengembangan terhadap lembaga-lembaga yang telah ada seperti madrasah, seminari, pesantren modern, dsb.
                Setelah kemerdekaan, telah diupayakan pengembangan suatu system pendidikan rasional sesuai ketetapan Ayat 2 Pasal 31 dari Uud 1945. Seperti telah dikemukakan bahwa menjelang PJP II telah ditetapkan landasan Yuridis untuk penataan Sisdiknas dengan ditetapkannya UU RI no. 2 Tahun 1989 beserta peraturan pelaksanaannya.







Ø Daftar Rujukan
http://nofrisalunp.blogspot.com/2011/11/aliran-aliran-pendidikan-dan-implikasi.html
Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta


Viedhaa

HAKIKAT MANUSIA

1.       Pengertian Sifat Hakikat Manusia

                Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karasteristik, yang secara prinsipiil (jadi bukan hanya gradual) membedakan manusia dengan hewan. Meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama  jika dilihat dari segi biologisnya.

                Bentuknya (misalnya orang hutan), bertulang belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya, melahirkan dan menyusui anaknya, pemakan segala, dan adanya persaman metabolisme dengan manusia. Kenyataan dan pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan yang keliru, mengira bahwa hewan dan manusia itu hanya berbeda secara gradual , yaitu suatu perbedaan yang dengan melalui rekayasa dapat dibuat menjadi sama keadaannya, misalnya air karena perubahan temperature, lalu menjadi es batu. Seolah olah dengan kemahiran rekayasa pendidikan orang hutan dapat dijadikan manusia. Upaya manusia untuk mendapatkan keterangan bahwa hewan tidak identik dengan manusia telah ditemukan. Charles Darwin (dengan teori evolusinya) telah berjuang untuk menemukan bahwa manusia berasal dari primat atau kera, tetapi ternyata gagal. Ada misteri yang dianggap menjembatani proses perubahan dari primat ke manusia yang tidak sanggup  diungkapkan yang disebut The Missing Link yaitu suatu mata rantai yang putus, ada suatu proses antara yang tak dapat dijelaskan. Jelasnya tidak ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau kera melalui proses evolusi yang bersifat gradual.

2.     Wujud Sifat Hakikat Manusia

Pada bagian ini akan dipaparkan wujud sifat hakikat manusia (yang tidak dimiliki oleh hewan) yang dikemukakan oleh paham eksistensialisme, dengan maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan, yaitu:
a.       Kemampuan menyadari diri
b.      Kemampuan bereksistensi
c.       Pemilikan kata hati
d.      Moral
e.      Kemampuan bertanggung jawab
f.        Rasa kebebasan (kemerdekaan)
g.       Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak
h.      Kemampuan menghayati kebahagiaan

3.       Dimensi-dimensi Hakikat Manusia

1.       Dimensi keindividualan
Setiap anak manusia yang dilahirkan telah dikaruniai potensi untuk menjadi berbeda dari yang lain, atau menjadi (seperti dirinya sendiri).
2.       Dimensi kesosialan
Setiap anak dikaruniai benih kemungkinan untuk bergaul. Artinya setiap orang dapat saling berkomunikasi yang pada hakikatnya di dlamnya terkandung unsure saling meberi dan menerima.
3.       Dimensi kesusilaan
Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila, serta melaksanakannya sehingga dikatakan manusia itu adalah makhluk susila.
4.       Dimensi keberagaman
Pada hakikatnya manausia adalah makhluk religious yang membutuhkan Tuhan.

HAKIKAT MANUSIA MENURUT PANDANGAN ISLAM
                Banyak pendapat yang dikemukakan para ahli, baik dari kalangan filsuf maupun ilmuwan tentang manusia. Pendapat tersebut sangat beragam dan tidak ada kesamaan, sebab sangat tergantung kepada bidang kajian ilmu masing-masing beserta pandangan filsafat yang mendasarinya. Pembicaraan tentang manusia menurut para ahli filsafat misalnya, tidak pernah menemukan kesimpulan yang sama. Pada umumnya mereka terlibat dengan argumentasi-argumentasi tentang keterkaitan antar tubuh, jiwa, roh manusia, sedangkan esensi tentang manusia itu sendiri tidak dapat ditemukan secara meyakinkan (Nurdin, et. Al., 1993:2)
                Hal ini menunjukkan bahwa masih belum ada pemahaman yang komprehensif tentang hakikat manusia dikarenakan subyektivitas dan keterbatasan nalar yang mereka miliki, akibatnya manusia tidak bisa menghasilkan kesimpulan yang memadai. Dengan kata lain, manusia tidak akan mampu memahami dirinya sndiri secara pasti, karena subyektivitas yang dia miliki. Itulah yang menyebabkan manusia cenderung hanya dipandang sebagai makhluk yang terdiri dari berbagai unsure, tidak lagi sebagai sosok yang integrative, akibat belum ditemukannya satu definisi yang dapat menggambarkan manusia yang utuh (Nurdin , et. Al, 1993:9)
                Untuk menjawab kebuntuan dan kesimpangsiuran tentang hakikat manusia, Islam menawarkan konsep manusia sebagai upaya untuk menjelaskan jati diri manusia secara utuh dan komprehensif. Islam mengajarkan bahwa yang dapat memberikan kejelasan secara pasti tentang hakikat manusia hanyalah pemberitahuan yang berasal dari pencipta manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Sebab sang penciptalah yang lebih memahami ciptaannya, sedang manusia walaupun sebagai makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh illahi, namun manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit (Q.S. al-Isra’:85)
                Itulah sebabnya jika manusia ingin mengetahui secara pasti mengenai hakikat dirinya secara benar, maka ia haru skembali ke penciptanya melalui pemahaman dan penyelidikan terhadap firman-firmannya (alquran dan hadis).

Aspek kehidupan manusia:
a.       Secara historis, penciptaan manusia disebut Bani Adam
                Penyebutan Bani Adam menunjukkan bahwa Adam adalah figure yang menjadi asal muasal manusia. Dari Adam inilah kemudian berkembang biak manusia yang jumlahnya sangat banyak.
b.      Secara biologis, manusia disebut dengan basyar, yang mencerminkan sifat fisik-kimiawi-biologisnya
                Istilah basyar ini menunjuk bahwa kulit manusia tampak jelas dan berbeda dari kulit hewan.

c.       Secara intelektual, manusia disebut insane, yakni makhluk tebaik yang diberi akal sehingga mampu menyerap ilmu pengetahuan.
                Di dalam istilah insan terkandung tiga kekuatan yang menjadi modal dasar kehidupan manusia di dunia yakni nafsu, akal, dan rasa. Nafsu merupakan tenaga potensial yang berupa dorongan-dorongan untuk berniat dan bertindak kreatif dan dinamis. Akal atau daya pikir, diartikan sebagai potensi intelegensi yang berfungsi sebagai filter, yang menyeleksi secara nalar tentang baik dan buruk yang didorong oleh nafsu. Rasa merupakan potensi yang mengarah pada nilai-nilai etika, estetika dan agama.

d.      Secara sosiologis, manusia disebut nas, yang menunujukkan kecenderungannya untuk berkelompok dengan sesama jenis.

e.      Secara posisional, manusia disebut ‘abd yang menunjukkan kedudukannya sebagai hamba allah yang harus tunduk dan patuh kepada-Nya

Menurut ajaran Islam, pada hakikatnya manusia adalah:
a.                   Makhluk ciptaan allah yang paling sempurna dan dijadikan dalam bentuk yang sangat baik (Q.S. at-tin:4)
b.                  Diciptakan oleh allah untuk mengabdi kepadanya (Q.S. al-Dzariyat:56)
c.                   Makhluk yang dikaruniai ruh, sehingga allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki kedudukan tinggi dan paling mulia (Q.S. al-Hijr:29)
d.                  Makhluk yang dianugerahoi akal. Dengan kalnya, manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan kemaunnya yang berkaitan dengan hokum dan peraturan Tuhan. Sehingga da manusia yang selalu tunduk dan patuh, ada juga yang ingkar. Ad yang beriman, ada pula yang kafir (Q.S. al-Insan:3, al-Kahfi:29)
e.                  Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi, yaitu sebagai wakil Allah yang berkuasa di bumi berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dengan tugas memakmurkan bumi (Q.S. Al-Baqarah:30, Yunus:14, Hud:61)
f.                    Secara individual, manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya (Q.S at-Thur:21)




KEDUDUKAN DAN TUGAS PENCIPTAAN MANUSIA
1.                   Tujuan penciptaan manusia
1.       Sebagai Khalifah di Bumi
Tanggung jawab utama yang harus dikerjakan manusia sebagai khalifah ialah mewujudkan kemakmuran di muka bumi dalam rangka mengaplikasikan berbagai bekal yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Selain itu ia juga berkewajiban untuk mengelola bumi dengan sebaik-baiknya, memelihara kelestarian alam, serta mencegah dari berbagai kemungkinan yang mengancam rusaknya kehidupan.

2.       Sebagai hamba Allah
Menurut Alquran, pada hakikatnya Allah menciptakan manusia itu dengan tujuan agar ia beribadah kepada-Nya. Bribadah disini berarti bahwa manusia harus mengabdi, berbakti, dan menghambakan diri kepada Allah SWT. Sebagai seorang hamba Allah ia harus taat, tunduk, dan patuh kepada perintah Allah, bukan kepada selain-Nya.

Kedua tanggung jawab tersebut yaitu sebagai khlaifah dan hamba Allah merupakan satu kesatuan yang hanya bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian manusia dituntut untuk mampu menciptakan keseimbangan antara keduanya. Maksudnya, dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai khalifah Allah yang ditandai dengan aktivias berpikir, berkreasi dan berkarya, hendaknya dibarengi pula dengan menjalankan tanggung jawab sebagai hamba Allah yang ditandai dengan niat karena Allah dan aktivitas beribadah (dzikir), begitu pula sebaliknya.







Daftar Rujukan
Tim Dosen PAI.2009.Aktualisasi Pendidikan Islam.Malang.Universitas Negeri Malang.
T. Umar , Sulo S. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta. 
Viedhaa






Viedhaa




I called him Wolfie
He’s  everything :)
I’m feel so comfort beside him
I don’t know why!


he is not perfect
but I know he loves me perfectly
so do I :*
he's the most patient person I've ever know
he never get angry even though I often make him upset
I already dating more than 4 months, but not once we ever fight
 


Wolfie is my spirits
Hes always encouraging me
he made me forget if I have a big problem
always hug me and keep me calm when I cry
I'm proud to have you dear
so proud!

still be here wolfie..
I would save you
Always be mine and never changed!
I DO LOVE YOU
TODAY, TOMORROW, and EVER :)


Viedhaa
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Ketika kita menangis?
Ketika kita membayangkan?
Ketika kita berciuman?
Ini karena hal yang terindah di dunia TIDAK TERLIHAT
Kita semua agak aneh.. dan hidup sendiri juga agak aneh..
Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita…
Kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam keanehan serupa yang dinamakan CINTA..

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan..
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan..
Tapi ingatlah.. Melepaskan BUKAN akhir dari dunia..
Melainkan awal suatu kehidupan baru..

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis..
Mereka yang tersakiti..
Mereka yang telah mencari..
Dan mereka yang telah mencoba..
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka..




Kamis, 02 Mei 2013

Paper Aliran-aliran Pendidikan

Diposting oleh Viedhaa di 12:15 AM 0 komentar

Aliran-aliran Pendidikan


A.      Aliran Klasik dan Gerakan Baru dalam Pendidikan
                Aliran-aliran klasik meliputi aliran-aliran empirisme, nativisme, naturalism, dan konvergensi merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran masa lalu, kini, dan mungkin yang akan dating. Aliran-aliran itu mewakili berbagai variasi pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang paling pesimis sampai dengan yang paling optimis. Aliran yang paling pesimis memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak bakat yang tealah dimiliki anak. Sedang sebaliknya, aliran yang sangat optimis memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati. Banyakk pemikiran yang berad di antara kedua kutub tersebut, yang dapat dipandang sebagai variasi gagasan dan pemikiran dalam pendidikan.

1.   ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN DAN IMPLIKASI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN
1. Aliran Empirisme
                Menurut konsep empirisme pendidikan adalah maha kuasa dalam membentuk anak didik menjadi apa yang diinginkannya.
                Menurut John Locke (dalam Blishen, 1970) hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah:
a.       Pendidikan harus diberi sejak awal mungkin
b.      Pembiasaan dan latihan lebih daripada peraturan, perintah atau nasehat
c.       Anak didik harus diamati dari dekat untuk melihat:
          1.      Apa yang paling tepat bagi anak itu sesuai dengan umurnya (tingkat perkembangannya).
          2.      Hasrat-hasratnya yang amat kuat
          3.      Kecendrungannya mengikuti orang tua tanpa merusak semangat anak itu amat kuat.
d.      Anak harus dianggap sebagai mahluk rasional, dalam hal ini anak harus diberikan alasan tentang hal-hal yang dituntut darinya.
e.       Pelajaran di sekolah jangan sampai menjadi beban bagi anak, namun hendaknya menyenangkan dan merupakan suasana bermain yang membuka seluas-luasnya berbagai kemungkinan yang dapat timbul.

       2. Aliran Nativisme
Nativisme berasal dari bahas Latin, asal katanya “natives” berarti terlahir. Aliran ini dipelopori oleh Sckophenhauer seorang filosof kebangsaan jerman yang hidup dalam tahun 1788-1880. Dia berpendapat bahwa “Pendidikan ialah membiarkan seseorang bertumbuh berdasarkan pembawaannya”. Seseorang akan berkembang berdasarkan apa yang dibawanya dari lahir. Hasil akhir perkembangan dan pendidikan manusia ditentukan  oleh pembawaannya dari lahir. Pembawaan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Oleh karena itu manusia akan berkembang dengan pembawaan baik maupun pembawaan buruk yang dibawaknya dari lahir.
                Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan, dan pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang. Contoh orang tua yang mengiginkan anaknya menjadi pelukis. Ia berusaha mempersiapkan alat-alat untuk melukis dan mendatangkan guru untuk melukis, tetapi gagal karena dalam diri anak tidak ada bakat melukis. Oleh karena itu aliran ini merupakan aliran pesimis dalam pendidikan (pesimisme)

3.      Aliran Naturalisme
                Naturalisme berasal dari bahasa latin dari kata “nature” artinya alam, tabiat, dan pembawaan. Aliran ini dipelopori oleh J.J Rousseau (1712-1778), filosof kebangsaan prancis. Aliran ini dinamakan juga nagativisme ialah aliran yang meragukan pendidikan untuk perkembangan seseorang karena dia dilahirkan dengan pembawaan yang baik.
Ciri utama aliran ini ialah dalam mendidik seseorang kembalilah kepada alam agar pembawaan seseorang yang baik itu tidak dirusak oleh pendidik. Dengan kata lain pembawaan yang baik itu supaya berkembang secara spontan.
Sebagai contoh, pada masa anak-anak pengembangan panca indra dilakukan melalui kegiatan anak itu sendiri. Untuk membimbing tingkah laku anak, buku tidak diperlukan, yang penting adalah pengembangan alam atau lingkungan dan berbagai pristiwa yang terjadi di dalamnya. Pada masa remaja agama dan moral hendaklah diajarkan kepada mereka semata-mata dalam kaitannya dengan alasan alamiah, kemampuan berfikir harus dikembangkan dan fantasi tidak dibiarkan bekerja leluasa. Pengajaran yang tujuannya ingin menanamkan suatu aturan atau otoritas tertentu lebih baik ditunda pelaksanaannya.

4.      Aliran Konvergensi
Konvergensi berasal dari bahasa inggris asal katanya ”convergency” artinya pertemuan pada suatu titik. Aliran ini dipelopori oleh William Stren seorang ahli pendidikan bangsa jerman pada tahun 1871-1937. Aliran ini mempertemukan atau mengawinkan dua aliran yang berlawanan di atas antara nativisme dan empirisme. Perkembangan seseorang tergantung kepada pembawaan dan lingkungannya. Dengan kata lain pembawaan dan lingkungan mempengaruhi perkembangan seseorang. Pembawaan seseorang baru berkembang karena pengaruh lingkungan.
                Jadi, menurut teori Konvergensi
a.       Pendidikan mungkin dilaksanakan
b.      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan pada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang buruk.
c.       Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh berkembang manusia.

2. GERAKAN BARU PENDIDIKAN  dan PENGARUHNYA TERHADAP PELAKSANAAN di INDONESIA
            Pendidikan sebagai suatu kegiatan kompleks menuntut penanganan untuk meningkatkan kualitasnya, naik yang bersifat menyeluruh maupun pada berbagai komponen tertentu saja. Gerakan baru dalam paendidikan pada umumnyatermasuk yang kedua yakni upaya peningkatan pendidikan hanya dalam satu atau beberapa komponen saja. Beberapa gerakan baru tersebut memusatkan diri pada perbaikan peningkatan kualitas belajar mengajar pada sistem persekolahan, seperti pengajarn alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekoalh kerja dan pengajaran proyek, dsb.

a.            Pengajaran Alam Sekitar
                Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak pada alam sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar, perintis ajaran ini antara lain ; Fr. A. Finger di Jerman dengan Heimatkunde (pengajaran alam sekitar) dan J. Lighthart di Belanda dengan Het Valleven (kehidupan senyatanya).
Alam sekitar sebagai fundamen dan pengajaran memberikan dasar emosional, sehingga anak menaruh perhatian yang spontan terhadap segala sesuatu yang diberikan kepadanya asal itu didasarkan atas dan diambil dari alam sekitarnya.
b.            Pengajaran Pusat Perhatian
                Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Oviderminat Decroly dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat, disamping pendapatnya tentang pengajaran global. Pendidikan menurut Decroly berdasar pada semboyan sekolah untuk hidup dan oleh hidup. Anak harus di didik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan dalam masyarakat, anak harus dihadapkan kepada pembentukan individu dan anggota masyarakat.
Decroly menyumbangkan 2 pendapat yang sangt berguna bagi pendidikan dan pengajaran, yaitu:
·  Metode Global , anak-anak mengamati dan menginat secara global (keseluruhan).
·  Centre d’interet (pusat-pusat minat) , anak-anak mempunyai minat yang spontan (sewajarnya) terhadap diri sendiri.
c.             Sekolah Kerja
                Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari pandangan-pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam pendidikan. J. A. Comenius menekankan agar pendidikan mengembangkan pikiran, ingatan, bahasa dan tangan (keterampilan, kerja tangan). Sekolah kerja itu bertolak dari pandangan bahwa pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu tetapi juga demi kepentingan msyarakat.
d.            Pengajaran Proyek
                Dasar filosofis dan pedagogis dari pengajaran-pengajaran proyek diletakkan oleh Jhon Dewey, namun pelaksanaannya dilakukan oleh pengikutnya. Dewey menegaskan bahwa sekolah haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat, oleh karena itu pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu sendiri dan bukannya penyiapan untuk kehidupan di masa depan.
                Pengajaran proyek biasa digunakan sebagai salah satu metode mangajar di Indonesia, antara lain dengan nama pengajaran proyek, pengajaran unit, dsb. Pengajaran proyek akan menumbuhkan kemampuan untuk memandang dan memecahkan masalah secara komprehensif.
e.            Pengaruh Gerakan Baru dalam Pendidikan Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan di Indonesia
                Kajian tentang pemikiran pendidikan pada masa lalu akan sangat bermanfaat untuk memperluaspemahaman tentang seluk beluk pendidikan, serta memupuk wawasan historik dari setiap tenaga kependidikan. Kedua hal itu sangat penting karena setiap keputusan dan tindakan di bidang pembelajaran, akan membawa dampak bukan hanya di masa kini tetapi juga di masa depan. Oleh karena itu setiap tindakan dan keputusan itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.

                Dua aliran pokok pendidikan di Indonesia itu dimaksudkan adalah Perguruan Kebangsaan Taman Siswa dan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam. Kedua aliran itu di pandang sebagai tombak pemikiran tentang pendidikan di Indonesia. Namun, upaya dan prakarsa di bidang pendidikan tidak terbatas oleh Taman Siswa dan INS saja, terjadi pula pengembangan terhadap lembaga-lembaga yang telah ada seperti madrasah, seminari, pesantren modern, dsb.
                Setelah kemerdekaan, telah diupayakan pengembangan suatu system pendidikan rasional sesuai ketetapan Ayat 2 Pasal 31 dari Uud 1945. Seperti telah dikemukakan bahwa menjelang PJP II telah ditetapkan landasan Yuridis untuk penataan Sisdiknas dengan ditetapkannya UU RI no. 2 Tahun 1989 beserta peraturan pelaksanaannya.







Ø Daftar Rujukan
http://nofrisalunp.blogspot.com/2011/11/aliran-aliran-pendidikan-dan-implikasi.html
Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta


Paper Hakikat Manusia

Diposting oleh Viedhaa di 12:09 AM 0 komentar

HAKIKAT MANUSIA

1.       Pengertian Sifat Hakikat Manusia

                Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karasteristik, yang secara prinsipiil (jadi bukan hanya gradual) membedakan manusia dengan hewan. Meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama  jika dilihat dari segi biologisnya.

                Bentuknya (misalnya orang hutan), bertulang belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya, melahirkan dan menyusui anaknya, pemakan segala, dan adanya persaman metabolisme dengan manusia. Kenyataan dan pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan yang keliru, mengira bahwa hewan dan manusia itu hanya berbeda secara gradual , yaitu suatu perbedaan yang dengan melalui rekayasa dapat dibuat menjadi sama keadaannya, misalnya air karena perubahan temperature, lalu menjadi es batu. Seolah olah dengan kemahiran rekayasa pendidikan orang hutan dapat dijadikan manusia. Upaya manusia untuk mendapatkan keterangan bahwa hewan tidak identik dengan manusia telah ditemukan. Charles Darwin (dengan teori evolusinya) telah berjuang untuk menemukan bahwa manusia berasal dari primat atau kera, tetapi ternyata gagal. Ada misteri yang dianggap menjembatani proses perubahan dari primat ke manusia yang tidak sanggup  diungkapkan yang disebut The Missing Link yaitu suatu mata rantai yang putus, ada suatu proses antara yang tak dapat dijelaskan. Jelasnya tidak ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau kera melalui proses evolusi yang bersifat gradual.

2.     Wujud Sifat Hakikat Manusia

Pada bagian ini akan dipaparkan wujud sifat hakikat manusia (yang tidak dimiliki oleh hewan) yang dikemukakan oleh paham eksistensialisme, dengan maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan, yaitu:
a.       Kemampuan menyadari diri
b.      Kemampuan bereksistensi
c.       Pemilikan kata hati
d.      Moral
e.      Kemampuan bertanggung jawab
f.        Rasa kebebasan (kemerdekaan)
g.       Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak
h.      Kemampuan menghayati kebahagiaan

3.       Dimensi-dimensi Hakikat Manusia

1.       Dimensi keindividualan
Setiap anak manusia yang dilahirkan telah dikaruniai potensi untuk menjadi berbeda dari yang lain, atau menjadi (seperti dirinya sendiri).
2.       Dimensi kesosialan
Setiap anak dikaruniai benih kemungkinan untuk bergaul. Artinya setiap orang dapat saling berkomunikasi yang pada hakikatnya di dlamnya terkandung unsure saling meberi dan menerima.
3.       Dimensi kesusilaan
Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila, serta melaksanakannya sehingga dikatakan manusia itu adalah makhluk susila.
4.       Dimensi keberagaman
Pada hakikatnya manausia adalah makhluk religious yang membutuhkan Tuhan.

HAKIKAT MANUSIA MENURUT PANDANGAN ISLAM
                Banyak pendapat yang dikemukakan para ahli, baik dari kalangan filsuf maupun ilmuwan tentang manusia. Pendapat tersebut sangat beragam dan tidak ada kesamaan, sebab sangat tergantung kepada bidang kajian ilmu masing-masing beserta pandangan filsafat yang mendasarinya. Pembicaraan tentang manusia menurut para ahli filsafat misalnya, tidak pernah menemukan kesimpulan yang sama. Pada umumnya mereka terlibat dengan argumentasi-argumentasi tentang keterkaitan antar tubuh, jiwa, roh manusia, sedangkan esensi tentang manusia itu sendiri tidak dapat ditemukan secara meyakinkan (Nurdin, et. Al., 1993:2)
                Hal ini menunjukkan bahwa masih belum ada pemahaman yang komprehensif tentang hakikat manusia dikarenakan subyektivitas dan keterbatasan nalar yang mereka miliki, akibatnya manusia tidak bisa menghasilkan kesimpulan yang memadai. Dengan kata lain, manusia tidak akan mampu memahami dirinya sndiri secara pasti, karena subyektivitas yang dia miliki. Itulah yang menyebabkan manusia cenderung hanya dipandang sebagai makhluk yang terdiri dari berbagai unsure, tidak lagi sebagai sosok yang integrative, akibat belum ditemukannya satu definisi yang dapat menggambarkan manusia yang utuh (Nurdin , et. Al, 1993:9)
                Untuk menjawab kebuntuan dan kesimpangsiuran tentang hakikat manusia, Islam menawarkan konsep manusia sebagai upaya untuk menjelaskan jati diri manusia secara utuh dan komprehensif. Islam mengajarkan bahwa yang dapat memberikan kejelasan secara pasti tentang hakikat manusia hanyalah pemberitahuan yang berasal dari pencipta manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Sebab sang penciptalah yang lebih memahami ciptaannya, sedang manusia walaupun sebagai makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh illahi, namun manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit (Q.S. al-Isra’:85)
                Itulah sebabnya jika manusia ingin mengetahui secara pasti mengenai hakikat dirinya secara benar, maka ia haru skembali ke penciptanya melalui pemahaman dan penyelidikan terhadap firman-firmannya (alquran dan hadis).

Aspek kehidupan manusia:
a.       Secara historis, penciptaan manusia disebut Bani Adam
                Penyebutan Bani Adam menunjukkan bahwa Adam adalah figure yang menjadi asal muasal manusia. Dari Adam inilah kemudian berkembang biak manusia yang jumlahnya sangat banyak.
b.      Secara biologis, manusia disebut dengan basyar, yang mencerminkan sifat fisik-kimiawi-biologisnya
                Istilah basyar ini menunjuk bahwa kulit manusia tampak jelas dan berbeda dari kulit hewan.

c.       Secara intelektual, manusia disebut insane, yakni makhluk tebaik yang diberi akal sehingga mampu menyerap ilmu pengetahuan.
                Di dalam istilah insan terkandung tiga kekuatan yang menjadi modal dasar kehidupan manusia di dunia yakni nafsu, akal, dan rasa. Nafsu merupakan tenaga potensial yang berupa dorongan-dorongan untuk berniat dan bertindak kreatif dan dinamis. Akal atau daya pikir, diartikan sebagai potensi intelegensi yang berfungsi sebagai filter, yang menyeleksi secara nalar tentang baik dan buruk yang didorong oleh nafsu. Rasa merupakan potensi yang mengarah pada nilai-nilai etika, estetika dan agama.

d.      Secara sosiologis, manusia disebut nas, yang menunujukkan kecenderungannya untuk berkelompok dengan sesama jenis.

e.      Secara posisional, manusia disebut ‘abd yang menunjukkan kedudukannya sebagai hamba allah yang harus tunduk dan patuh kepada-Nya

Menurut ajaran Islam, pada hakikatnya manusia adalah:
a.                   Makhluk ciptaan allah yang paling sempurna dan dijadikan dalam bentuk yang sangat baik (Q.S. at-tin:4)
b.                  Diciptakan oleh allah untuk mengabdi kepadanya (Q.S. al-Dzariyat:56)
c.                   Makhluk yang dikaruniai ruh, sehingga allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki kedudukan tinggi dan paling mulia (Q.S. al-Hijr:29)
d.                  Makhluk yang dianugerahoi akal. Dengan kalnya, manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan kemaunnya yang berkaitan dengan hokum dan peraturan Tuhan. Sehingga da manusia yang selalu tunduk dan patuh, ada juga yang ingkar. Ad yang beriman, ada pula yang kafir (Q.S. al-Insan:3, al-Kahfi:29)
e.                  Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi, yaitu sebagai wakil Allah yang berkuasa di bumi berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dengan tugas memakmurkan bumi (Q.S. Al-Baqarah:30, Yunus:14, Hud:61)
f.                    Secara individual, manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya (Q.S at-Thur:21)




KEDUDUKAN DAN TUGAS PENCIPTAAN MANUSIA
1.                   Tujuan penciptaan manusia
1.       Sebagai Khalifah di Bumi
Tanggung jawab utama yang harus dikerjakan manusia sebagai khalifah ialah mewujudkan kemakmuran di muka bumi dalam rangka mengaplikasikan berbagai bekal yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Selain itu ia juga berkewajiban untuk mengelola bumi dengan sebaik-baiknya, memelihara kelestarian alam, serta mencegah dari berbagai kemungkinan yang mengancam rusaknya kehidupan.

2.       Sebagai hamba Allah
Menurut Alquran, pada hakikatnya Allah menciptakan manusia itu dengan tujuan agar ia beribadah kepada-Nya. Bribadah disini berarti bahwa manusia harus mengabdi, berbakti, dan menghambakan diri kepada Allah SWT. Sebagai seorang hamba Allah ia harus taat, tunduk, dan patuh kepada perintah Allah, bukan kepada selain-Nya.

Kedua tanggung jawab tersebut yaitu sebagai khlaifah dan hamba Allah merupakan satu kesatuan yang hanya bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian manusia dituntut untuk mampu menciptakan keseimbangan antara keduanya. Maksudnya, dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai khalifah Allah yang ditandai dengan aktivias berpikir, berkreasi dan berkarya, hendaknya dibarengi pula dengan menjalankan tanggung jawab sebagai hamba Allah yang ditandai dengan niat karena Allah dan aktivitas beribadah (dzikir), begitu pula sebaliknya.







Daftar Rujukan
Tim Dosen PAI.2009.Aktualisasi Pendidikan Islam.Malang.Universitas Negeri Malang.
T. Umar , Sulo S. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta. 

Selasa, 12 Februari 2013

Nano Nano's Story

Diposting oleh Viedhaa di 11:43 PM 1 komentar






Prince Charming :D

Diposting oleh Viedhaa di 10:18 PM 0 komentar




I called him Wolfie
He’s  everything :)
I’m feel so comfort beside him
I don’t know why!


he is not perfect
but I know he loves me perfectly
so do I :*
he's the most patient person I've ever know
he never get angry even though I often make him upset
I already dating more than 4 months, but not once we ever fight
 


Wolfie is my spirits
Hes always encouraging me
he made me forget if I have a big problem
always hug me and keep me calm when I cry
I'm proud to have you dear
so proud!

still be here wolfie..
I would save you
Always be mine and never changed!
I DO LOVE YOU
TODAY, TOMORROW, and EVER :)


Sabtu, 03 November 2012

(Unknown Writer) Novel “Hayami Masumi-ku”

Diposting oleh Viedhaa di 8:33 PM 0 komentar
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Ketika kita menangis?
Ketika kita membayangkan?
Ketika kita berciuman?
Ini karena hal yang terindah di dunia TIDAK TERLIHAT
Kita semua agak aneh.. dan hidup sendiri juga agak aneh..
Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita…
Kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam keanehan serupa yang dinamakan CINTA..

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan..
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan..
Tapi ingatlah.. Melepaskan BUKAN akhir dari dunia..
Melainkan awal suatu kehidupan baru..

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis..
Mereka yang tersakiti..
Mereka yang telah mencari..
Dan mereka yang telah mencoba..
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka..